AI HARTA KARUN ANALYZER

Unggah Foto • Analisa AI • Temukan Petunjuk Tersembunyi

Upload Foto Lokasi



Menunggu foto...
Showing posts with label hipnotis. Show all posts
Showing posts with label hipnotis. Show all posts

Thursday, December 5, 2013

Proses Teknik Hipnotis Dasar


Materi Pelatihan Dasar
Dalam pelatihan Program Pemula ini, secara mendalam Anda dilatihan untuk mampu menentukan target yang tepat untuk Anda Hipnotis, dengan pemahaman Hipnotis yang benar, disertai teknik melatihan keterampilan berkomunikasi, disertai berbagai teknik Hipnotis Kilat baik secara verbal maupun non verbal. Berikut keterangan materi pelatihan secara lengkap :

Pertama

1. Pre-Induction Ketika Anda pertama kali mengetahui suatu informasi tentang kami atau pada waktu bertemu kami, inilah yang disebut Pre-Induction, tahap sebelum dimulai induksi. Setelah Anda mengisi formulir terapi, kami membuka percakapan mengenai masalah Anda, menghilangkan miskonsepsi dan rasa takut Anda terhadap hypnosis, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda. Pre-Induction juga disebut tahap Pre-Talk

2. Suggestibility Test / Uji sugestibilitas

Uji sugestibilitas digunakan untuk mengetahui apakah seseorang memiliki tipe physical suggestibility (sugestibilitas fisik) atau emotional suggestibility (sungestibilitas perasaan). Mengetahui tipe sugestibilitas seseorang sangat penting untuk menentukan tipe induksi yang digunakan dan teknik terapi yang cocok.

3. Induction / Induksi


Induksi (dalam bahasa hypnosis) adalah cara yang digunakan oleh hypnotist untuk membimbing klien mengalami trance hypnosis. Trance hypnosis adalah suatu kondisi kesadaran dimana bagian kritis pikiran sadar tidak aktif, sehingga klien sangat reseptif terhadap sugesti yang diberikan oleh hypnotist.

Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk induksi. Akan sangat panjang dan terlalu teknis bila kami jelaskan disini. Cukup Anda perhatikan satu hal penting ini: Syarat utama agar proses induksi berjalan lancar adalah Anda harus bersedia dihipnotis. Bila Anda menolak dihipnotis maka kami atau siapapun tidak akan mampu menghipnotis Anda. Hypnosis tidak bisa diterapkan secara paksa.

4. Deepening

Deepening merupakan kelanjutan dari induksi. Tujuannya dari penggunaan teknik deepening adalah untuk membuat klien semakin suggestible (meningkatkan kemampuan untuk menerima sugesti). Kita mengenal ada beberapa tingkatan trance hypnosis. Secara sederhana kita bisa membagi tingkatan trance hypnosis menjadi light trance, medium trance, deep trance atau somnambulism. Somnambulism adalah kondisi mental dimana pikiran subjek menjadi sangat sugestif. Level trance hypnosis yang paling tepat untuk terapi ataupun untuk stage hypnosis adalah somnambulism.

Oleh karena itu, apabila setelah induksi seorang klien belum mencapai kondisi somnambulism, hypnotist perlu melakukan deepening dengan teknik tertentu yang bisa membuat klien mengalami somnambulism. Untuk mengetahui tingkat tance hypnosis yang dialami klien, hypnotist bisa melakukan trance level test, atau bagi hypnotist yang berpengalaman cukup melihat dari tanda-tanda yang ditunjukkan klien.

5. Terapi Pikiran Dimulai

Banyak hypnotist pemula yang kurang memahami bahwa dalam menjalankan hypnotherapy, ada teknik-teknik tertentu yang harus dikuasai. Sering kali ada hypnotist pemula yang karena sudah menguasai teknik induksi (membimbing orang mengalami trance hypnosis), maka dia merasa sudah menguasai seluruh ilmu hypnosis.

Misalkan komputer dengan OS Windows, teknik induksi hanyalah password. Orang yang mengetahui password dan berhasil membuka windows belum tentu memahami cara mengoperasikan atau membuat program komputer dengan benar, salah-salah malah bisa merusaknya. Begitu juga dengan hypnosis, orang yang baru bisa menghipnotis belum tentu bisa melakukan terapi untuk menyelesaikan masalah yang serius.

Dalam banyak kasus, memberi sugesti secara langsung (direct suggestion) memang sangat efektif dan sudah bisa membuat klien mengalami perubahan drastis. Namun apabila masalah yang dihadapi klien sebenarnya disebabkan oleh peristiwa traumatik di masa lalu, maka perlu dilakukan teknik khusus seperti age regression, time line therapy, hipnoanalisa, forgiveness therapy, chair therapy, atau teknik-teknik lainnya.

6. Terminasi / Mengakhiri Sesi Hypnotherapy

Inilah bagian yang kami suka. Karena begitu klien membuka mata, kami sering melihat senyum yang ceria dan mata berbinar. Itulah mengapa kami selalu ketagihan melakukan hypnotherapy. Membangunkan klien dari hypnosis adalah hal yang paling mudah dan menyenangkan, lebih mudah daripada membangunkan remaja di hari minggu. Siapapun tidak perlu takut dihipnotis karena takut tidak bisa bangun. Sepanjang sejarah penggunaan hypnosis yang saya tahu, tidak satupun orang yang tidak bisa bangun dari kondisi hypnosis.


TEKNIK TERAPI PADA HIPNOTERAPY:

1. Ideomotor respond
2. Hypnotic Regression
3. Systematic Desensitization
4. Implosive Desensitization
5. Desensitization by Object Projection
6. The Informed Child Technique
7. Gestalt Theraphy
8. Reframing
9. Open Screen Imagery
10. Positive Programmed Imagery
11.Verbalizing
12. Direct Suggestion
13. Indirect Guided Imagery
14. Inner Guide
15. Part Theraphy
16. Dream Theraphy
17. Time Line Theraphy

Download Ebook

====================================
Belajar Hipnotis Dasar Melalui Video Tutorial :
====================================
(((===========1=============))))



(((===========2=============))))



(((===========3=============))))



(((===========4=============))))



(((===========5=============))))



(((===========6=============)))



(((===========7=============)))



(((===========8=============)))


((((===========1a=============))))


((((===========2a=============))))

(

(((===========3a=============))))


(((===========4a=============))))



(((===========5a=============))))


(((===========6a=============))))

=====================================================================
Ulangi Pelajaran dasar hingga mengerti dan sering-seringlah dicoba pada kawan atau siapa saja dan bila sudah paham silahkan lanjutkan ke >halaman lain:::>>>> - See more 


Saturday, November 10, 2012

Sertifikasi Hypnotherapist



Certified Hypnotherapist or Qualified Hypnotherapist?  Saat bertemu dengan seorang rekan bisnis, baru-baru ini, kami sempat diskusi mengenai banyak hal dan akhirnya sampai pada aktivitas saya sebagai penulis buku, trainer, dan juga seorang hipnoterapis. Waktu mendengar bahwa saya adalah seorang hipnoterapis rekan ini langsung bertanya, “Pak Adi, apakah ada standarisasi profesi hipnoterapis di Indonesia?”
“Maksudnya?” tanya saya.

“Begini Pak Adi. Tiga bulan lalu adik saya menjalani hipnoterapi” jelas rekan saya.
“Apa masalah adik Pak Budi?” tanya saya lebih lanjut.
“Adik saya ini kan lagi punya masalah. Dia stress berat karena anaknya meninggal. Saking stressnya adik saya sampai sulit tidur dan akhirnya mendengar suara-suara. Ada suara orang yang memanggil-manggil, ada yang marah-marah, ada yang menertawakan dia. Padahal sebenarnya nggak ada orang di sekitarnya. Jadi, dia itu halusinasi. Dia diterapi oleh tiga hipnoterapis. Yang pertama sebanyak 10 sesi. Nggak ngefek. Lalu sempat diterapi oleh hipnoterapis kedua sebanyak 7 sesi. Juga nggak ngefek sama sekali. Baru setelah dihipnoterapi oleh terapis ketiga, sebanyak tiga sesi, adik saya menunjukkan kemajuan walaupun belum sembuh total. Dia sudah bisa tidur, tapi suara-suara itu masih terdengar. Walau nggak sesering sebelumnya” jawabnya.
“Berarti adik Pak Budi sudah mengalami banyak kemajuan, kan?” tanya saya lagi.
“Nah, ini yang membuat saya bingung. Sama-sama hipnoterapis, sama-sama punya gelar C.Ht, tapi mengapa kemampuan mereka berbeda? Harusnya kalau sudah punya gelar C.Ht mampu menangani kasus yang sama dong. Bahkan dari kartu nama hipnoterapis yang menangani adik saya dua di antaranya adalah anggota dari asosiasi apa gitu di Amerika. Apakah seperti itu, memang berbeda-beda, ataukah ada standar tertentu?” tanyanya lagi.
Pembaca, cukup panjang diskusi saya dengan Pak Budi. Saya menanyakan beberapa hal lagi sebelum memberikan penjelasan kepada Pak Budi. Saya menemukan mengapa terapi yang dilakukan oleh dua terapis pertama tidak efektif. Ulasan berikut ini adalah penjelasan yang saya sampaikan pada Pak Budi untuk meluruskan beberapa hal berkenaan dengan teknik terapi, gelar hipnoterapis, proses, dan hasil terapi.
Apakah dua terapis pertama yang menerapi adik Pak Budi tidak efektif?
Jawabannya, “Belum tentu”.
Yang perlu diingat terapi adalah kontrak upaya, bukan kontrak hasil. Tidak ada jaminan bahwa klien pasti sembuh bila dihipnoterapi. Dan terapis juga tidak pernah dan tidak boleh menjanjikan kesembuhan. Keberhasilan terapi bergantung pada dua pihak, klien dan terapis.
Saya akan bahas terlebih dahulu aspek klien. Beberapa faktor yang sangat penting, yang harus dipenuhi oleh klien, agar terapi bisa berjalan dengan baik dan mencapai hasil optimal adalah antara lain:
1.Klien bersedia diterapi atas kesadarannya sendiri, bukan atas permintaan, bujukan, rayuan, atau paksaan dari pihak lain.
2.Klien percaya sepenuhnya pada terapis.
3.Klien all-out menjalani sesi terapi.
4.Klienbersikap jujur, sepenuhnya terbuka, dan menjawab semua pertanyaan terapis.
5. Bersedia menjalani sesi terapi sebanyak yang ditetapkan terapis.
Bila klien bersedia melakukan hal di atas maka keberhasilan terapi selanjutnya ditentukan oleh pengetahuan, kecakapan, pengalaman, dan kreativitas terapis.

Merujuk pada judul artikel ini maka saya membagi hipnoterapis menjadi dua kategori yaitu certified hypnotherapist dan qualified hypnotherapist. Lho, apa bedanya?
Tidak seperti dokter, psikolog, atau psikiater yang masuk kategori licensed profession, hipnoterapis, di Amerika hingga saat ini, masuk kategori non-licensed profession. Nah, ini di Amerika yang aturannya ketat dan jelas. Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Sabar ya, saya jelaskan hal lain dulu.
Pendidikan hipnoterapis berbeda dengan pendidikan dokter, psikolog, atau psikiater walaupun sama-sama berada di healing profession. Untuk menjadi dokter, misalnya, kita perlu sekolah di fakultas kedokteran selama sekitar 5 -7 tahun dan harus lulus ujian. Setelah itu, untuk bisa praktik, seorang dokter harus mendapat surat ijin praktik dari pemerintah. Kalau mau jadi dokter spesialis ya sekolah lagi. Mau jadi konsulen, sekolah lagi. Jadi, jenjangnya jelas.
Demikan juga dengan menjadi psikolog. Yang bisa jadi psikolog adalah mereka yang selesai kuliah di S1 dan S2 Psikologi. Jadi, S1 dan S2 harus linier. Sedangkan untuk menjadi psikiater adalah dengan menjadi dokter umum dulu dan dilanjutkan dengan mengambil S2 Ilmu Kejiwaan. Baik psikolog dan psikiater harus punya ijin praktik resmi dari pemerintah.
Bagaimana kalau mau jadi hipnoterapis? Wah… ini bergantung pada masing-masing lembaga yang menyelenggarakan pendidikan atau pelatihan. Ada lembaga yang memberikan sertifikasi hipnoterapis cukup hanya dengan dua hari pelatihan. Ada lagi yang empat hari, enam hari, atau bahkan sampai sembilan hari. Intinya, semua peserta yang telah menyelesaikan pelatihan pasti diberi sertifikat dan dinyatakan, oleh lembaga itu, sebagai C.Ht atau certified hypnotherapist.
Apakah certified hypnotherapist juga berarti qualified hypnotherapist?
Nah, ini yang belum tentu.
Mengapa masing-masing lembaga bisa memberikan sertifikasi atau C.Ht., padahal lama masa pendidikannya berbeda?
Ini semua bergantung pada kurikulum yang diajarkan di lembaga itu. Kalau begitu, apakah ada standar kurikulum untuk menjadi certified hypnotherapist?
Jawabannya, “Belum ada kurikulum standar yang diterima semua lembaga.”
Ini kondisi yang terjadi di Amerika, lho. Dengan demikian kurikulum hipnoterapi sangat beragam, bergantung pada lembaga yang menyelenggarakan pelatihan. Memang di tahun 1992, Corry Hammond dan Gary Elkins memulai proyek untuk menentukan konten pendidikan profesi hipnoterapis klinis (Elkins&Hammond, 1998).
Mereka menelusuri pemikiran dan melakukan wawancara terhadap para pakar hipnoterapi klinis, pengajar, dan ilmuwan dari semua orientasi teoritis. Dari total 109 responden, 31% adalah pakar yang sangat disegani di disiplin ilmu mereka dan mewakili lembaga terkemuka, seperti The American Boards of Clinical Hypnosis. Hasil survei ini akhirnya dirangkum menjadi The Standards of Training in Clinical Hypnosis (SOTCH; Hammond & Elkins, 1994)

SOTCH dibagi menjadi level basic dan intermediate, masing-masing lamanya 20 jam pelatihan. Sejak tahun 1998 The American Society of Clinical Hypnosis dan The Society for Clinical and Experimental Hypnosis, organisasi ternama untuk profesional di bidang kesehatan di Amerika, mensyaratkan setiap calon anggotanya untuk mengikuti workshop 20 jam mengikuti standar SOTCH.

Di tahun 2006, The International Society of Hypnosis (ISH) mengadopsi SOTCH untuk workshop basic di International Congress of Hypnosis ke 17 di Acapulco, Mexico. Organisasi lain, baik pada skala nasional maupun lokal, di Amerika, menggunakan konten yang berbeda.

NGH mensyaratkan pelatihan 100 jam. Lembaga lain, lain pula kebijakannya. Ada yang mensyaratkan minimal 150 jam dan bahkan ada yang 200 jam tatap muka. Ini dari segi waktu pendidikan. Bagaimana dengan konten atau kurikulum pelatihan? Semua bergantung pada siapa tokoh pendiri lembaga itu. Hipnoterapi, walaupun semua bicara mengenai pikiran bawah sadar namun teknik intervensi klinis, pemahaman cara kerja pikiran, dan teori yang digunakan atau dikembangkan berbeda antara pakar yang satu dengan yang lain.

Saya, kebetulan, sempat menelusuri kurikulum beberapa lembaga pelatihan hipnoterapi terkemuka di Amerika. Saya bahkan sempat mendaftar untuk belajar online. Untuk yang ini saya hanya ikut yang kelas advanced yang diselenggarakan (alm) Gil Boyne. Ternyata setiap lembaga punya kurikulum sendiri, sangat beragam, dan dengan penekanan yang berbeda.

Untuk menjadi certified hypnotherapist saat ini sangat mudah. Hanya dengan mengikuti kelas online kita bisa mendapatkan sertifikat dari lembaga itu, yang juga diakui oleh lembaga yang lebih besar lagi di Amerika.
  
Bagaimana dengan standar pendidikan hipnoterapis di Indonesia?
Sama saja dengan yang di Amerika. Belum ada standar baku. Masing-masing lembaga punya kurikulum sendiri. Masing-masing punya kelebihan dan keterbatasan. Semua bergantung pada siapa pendiri lembaganya, pengetahuan, pengalaman, dasar teori yang digunakan, dan kiblat atau aliran hipnoterapi yang dipelajari dan dipraktikkan oleh pendiri lembaga itu.

Hingga saat ini belum ada satupun lembaga resmi hipnoterapi, yang diakui oleh pemerintah Indonesia, yang berperan seperti IDI atau HIMPSI. Kalaupun ada lembaga yang mengaku sebagai asosiasi hipnoterapis maka ini benar dalam pengertian lembaga ini adalah lembaga yang menaungi alumni sendiri, tidak diakui atau belum diterima sebagai lembaga resmi nasional, dan juga belum menjadi afiliasi dari hipnoterapis lulusan lembaga lain. Jadi, cukup rumit ya?

Kembali ke pertanyaan, “Apakah certified berarti qualified?”
Ini bisa ya, bisa tidak. Setelah selesai pendidikan semua peserta secara otomatis certified atau tersertifikasi menjadi hipnoterapis. Namun sertifikasi ini bukan jaminan bahwa ia qualified. Mengapa saya mengatakan demikian?

Memang sangat sulit untuk menentukan apakah seorang certified hypnotherapist juga adalah seorang qualified hypnotherapist. Bahkan Dr.David Waxman (President British Society of Medical & Dental Hypnosis),  dalam surat yang ditulisnya kepada Daily Telegraph, dan dimuat pada tanggal 5/10/1984 dengan cukup keras dan tegas menyatakan:

 "It is time that the general public be informed that there is no such person as a ‘qualified hypnotherapist’, and claims of degrees in this speciality exist only in the fantasies of the so-called ‘therapist’. No properly recognised degrees in hypnosis are issued anywhere in the world."

(Sudah saatnya awam diberitahu bahwa sebenarnya tidak ada seorang pun yang dapat disebut sebagai ‘qualified hypnotherapist’, dan pengakuan akan gelar dalam bidang ini hanyalah fantasi dari mereka yang disebut ‘terapis’. Tidak ada satu pun lembaga di dunia yang memberikan gelar resmi dalam bidang hipnosis)
Pernyataan Dr. David Waxman ini juga secara gamblang dan lugas menjelaskan bahwa sampai saat ini belum ada satu pun lembaga pendidikan formal, seperti universitas, yang memberikan gelar akademik resmi sebagai hipnotis atau hipnoterapis. Jadi, tidak benar bila ada yang mengaku bahwa mereka adalah lulusan S2 atau bahkan S3 hipnoterapi dari universitas tertentu di luar negeri.

Terlepas dari apa yang dikatakan oleh Dr.David Waxman, menurut hemat saya, setidaknya kita bisa mengatakan seorang hipnoterapis sebagai qualified hypnotherapist bila ia mampu melakukan terapi, mengikuti kaidah keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dan mampu membantu klien mengatasi masalah.

Qualified ini juga berjenjang bergantung pada kasusnya. Ada kasus yang ringan. Ada kasus yang berat. Ada kasus yang sangat berat. Hipnoterapis yang qualified menyembuhkan kasus ringan, misalnya seperti fobia, berhenti merokok, kurang percaya diri, dan yang sejenisnya, belum tentu qualified menangani kasus yang lebih berat seperti kecemasan tinggi, PTSD, OCD, apalagi sampai ke kasus penyakit psikosomatis berat, depresi dengan kecenderungan bunuh diri, schizophrenia, bipolar, dan bahkan DID (Dissociative Identity Disorder).

Lalu, bagaimana menjadi certified dan juga qualified hypnotherapist?
Ini semua diawali dengan diri kita sendiri. Apakah tujuan utama kita menjadi hipnoterapis? Apakah hanya untuk tahu apa itu hipnosis atau hipnoterapi, ataukah untuk sungguh-sungguh belajar dan menjadi hipnoterapis yang cakap dan andal yang mampu membantu sesama? Apakah kita bersedia meluangkan waktu untuk belajar dan berlatih mengembangkan keterampilan dan kemampuan terapi kita?
Selanjutnya kita perlu hati-hati memilih lembaga tempat kita belajar. Pastikan trainer yang mengajar kita adalah praktisi atau hipnoterapis aktif dan telah terbukti menangani banyak kasus, baik mulai kasus ringan hingga kasus yang berat.

Sebelum belajar ke trainer ini kita perlu bertanya mengenai sertifikasinya, dari mana ia belajar hipnoterapi, sudah berapa lama praktik, sudah berapa banyak klien yang ia tangani, kasus apa saja yang pernah ia tangani, dan bagaimana dengan tingkat keberhasilan terapinya.

Mengapa kita perlu menanyakan reputasi dan kredibilitas trainer atau lembaga?
Karena setelah selesai pendidikan dan menjadi certified hypnotherapist kita pasti akan praktik dan menerima klien. Seringkali kasus yang kita hadapi di ruang praktik tidak pernah dijelaskan atau diajarkan di kelas, waktu pelatihan. Di sinilah peran trainer sebagai mentor dan coach yang akan menjelaskan kepada kita, muridnya, berdasar pengalaman praktiknya sendiri, bagaimana cara yang paling efektif untuk mengatasi kasus yang sedang kita hadapi. Lha, kalau trainernya jarang atau mungkin nggak pernah praktik maka tidak mungkin ia bisa membantu atau memberikan bimbingan pada kita. Dari praktik yang terus menerus inilah kita meningkat dari certified hypnotherapist menjadi qualified hypnotherapist.

Cara lain untuk mengetahui kecakapan seorang trainer atau kualitas lembaga adalah dengan mengunjungi situs mereka dan membaca apa yang ada di situs ini. Kita juga bisa mencari komentar atau pendapat pakar lain mengenai trainer atau lembaga ini.

Saat mencari trainer di luar negeri, jika mengunjungi situs mereka, maka yang saya cari adalah artikel yang dimuat di sana. Apakah situs ini hanya berisi informasi mengenai apa itu hipnosis, hipnoterapi, manfaat hipnoterapi, dan hal-hal umum yang bisa didapat dari sumber lain, ataukah situs ini berisi artikel yang beragam dan menjelaskan apa yang dilakukan oleh trainer atau lembaga ini, khususnya dalam konteks terapi, riset, dan pengembangan keilmuan. Artikel yang ada di situs ini secara langsung menunjukkan tingkat kualifikasi, kompetensi, dan pengetahuan trainer atau lembaga itu. Hal lain lagi adalah saya menghindari belajar ke orang atau lembaga yang tidak memasang foto diri si trainer atau pendiri lembaga itu.

Sedapat mungkin saya akan membaca terlebih dahulu beberapa buku yang ditulis oleh trainer  tersebut. Hal ini untuk mendapatkan “feeling” apakah saya cocok dengan materi dan kepribadian si trainer. Biasanya saya mendapatkan nama trainer ini dari beberapa buku atau publikasi yang saya baca yang ternyata merujuk pada satu nama yang sama yaitu nama si trainer. 

Setelah itu barulah saya melihat apa materi yang diajarkan, berapa lama pelatihannya, dan apa bentuk dukungan yang diberikan oleh trainer atau lembaga setelah kami selesai pelatihan.

Dari pengalaman saya pribadi sebagai pendidik, cara mengajar orang dewasa berbeda dengan mengajar anak-anak. Agar efektif, pendidikan hipnoterapis sebaiknya menggunakan spiral curriculum sehingga pemahaman dan penguasaan materi bisa sangat tinggi. Hal ini akan sangat membantu saat latihan atau praktik yang akhirnya akan membawa kita menjadi seorang Qualified Certified Hypnotherapist.
Akhir kata, Qualified Certified Hypnotherapist, menurut hemat saya tidak hanya certified namun juga mampu, cakap, dan kompeten dalam melakukan terapi, dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, hasil terapi yang permanen, dalam waktu yang singkat, memegang teguh kode etik profesi, melakukan praktik dengan integritas dan kesadaran tinggi, dan melakukan terapi dengan menempatkan kebaikan dan kemajuan hidup klien pada level yang paling utama dengan tetap mengindahkan tanggung jawab moral, akal sehat, dan menjunjung tinggi nilai spiritual. (http://www.adiwgunawan.com)

Hipnotis Panggung


Hipnotis panggung merupakan salah satu aplikasi hipnosis paling populer dalam sejarah hipnosis yang biasanya dipertontonkan dalam gedung kafe, klub, auditorium atau sejenisnya. Seorang hipnotis panggung akan mendemonstrasikan efek-efek komedi seperti kehilangan kendali gerak tubuh, amnesia, dan berbagai jenis halusinasi.

Para penonton dibawa untuk mempercayai kekuatan dari sang Hipnotis Panggung untuk mengontrol para sukarelawannya. Namun, sebenarnya efek permainan hipnosis panggung adalah kombinasi dari faktor psikologi sosial, seleksi subyek, dan sugestibilitas umum tingkat rendah. Para sukarelawan memang pada dasarnya memiliki hasrat untuk menjadi pusat perhatian, sehingga mereka maju ke panggung dan menyerukan “saya dihipnotis!” sebagai alasan untuk bebas lepas mengekspresikan diri di luar kebiasaan normal.

Sebagai seorang Hipnotis Panggung, ia hanya bertugas untuk menuntun, memberi dukungan dan arahan bagi sukarelawan yang mengijinkan dirinya terhipnosis ringan di atas panggung itu. Semakin lama ia berada di panggung, semakin dalam efek hipnosisnya, sampai pada akhirnya sebagian sukarelawan akan benar-benar tenggelam dalam hipnosis sehinga seolaholah ‘tidak sadar’ akan apa yang ia lakukan.

Bagi sukarelawan yang ternyata menolak untuk bekerja sama, ia akan dikirim keluar dari panggung. Seorang Hipnotis Panggung akan memakai kesempatan tersebut untuk ‘memberikan contoh’ kepada para sukarelawan yang masih tersisa di panggung agar mereka wajib menurut dan mengikuti permainan jika tidak ingin kehilangan kesempatannya bermainmain di atas panggung.

Ini adalah rahasia yang sama-sama diketahui oleh seluruh ahli sulap dan hipnotis (dahulu kedua area itu adalah satu), termasuk para trainer pelatihan hipnotis, namun sangat amat sedikit sekali yang bersedia mengakuinya karena alasan-alasan tertentu.   Jadi jika seseorang mengetahui hipnotisme hanya dari apa yang terlihat di media (khususnya koran dan TV) maka mereka mendapatkan gambaran serta pemahaman yang salah tentang bagaimana proses kerja hipnosis. Walaupun sekilas terlihat serupa, hipnosis panggung memiliki prinsip kerja yang sedikit berbeda dibandingkan dengan hipnoterapi.

1. Hipnotis Panggung mengandalkan efek authoritarian dan social compliance. Sebagian besar peserta yang ada di depan panggung tidak sesungguhnya mengalami trance, melainkan hanya sekedar mengikuti perintah sang hipnotis dan bersenang-senang menikmati perhatian dari orang.

2. Kalaupun mengalami hipnosis, orang tersebut hanya mengalami trance ringan untuk memejamkan mata sehingga merasa rileks dan lepas dari tekanan. Dimulai dari efek-efek yang ringan saat mata terpejam. Semakin banyak ‘efek sugesti’ ringan yang diterima, semakin terlatih sang subyek untuk mengikuti efek yang lebih demanding saat subyek dalam keadaan mata terbuka.

3. Hipnotis Panggung melakukan proses seleksi berkali-kali terhadap para sukarelawan yang maju ke panggung, sehingga ia hanya akan bermain dengan  subyek yang sangat sugestif dan/atau suka mencari perhatian. Bagi subyek yang bekerjasama akan mendapatkan reward, sementara yang tidak bekerjasama akan kehilangan reward atau bahkan mendapat punishment.

4. Hipnotis Panggung umumnya merupakan media promosi bagi seorang hipnoterapis. Publik diajak untuk menonton sebuah demonstrasi yang membuat mereka yakin akan kekuatan hipnotis dan tertarik untuk mengikuti hipnoterapi dengan sang hipnotis.

5. Hipnotis Panggung sesekali menggunakan efek sulap dan peranan stooge untuk memeriahkan suasana, serta meningkatkan sugestibilitas para sukarelawan yang terlibat di atas panggung.

6. Seorang Hipnotis Panggung wajib mengasah keterampilannya dalam: seleksi subyek, kreatifitas permainan, dan aura penampilan. Tiga hal yang tidak begitu diperlukan dalam hipnoterapi.

Prinsip pada Hipnosis Panggung ini sangat erat sekali dengan prinsip mekanika yang terjadi pada kejahatan bermodus hipnotis. Unsur hipnosis yang dipakai hanya sebatas komunikasi yang persuasif, namun sama sekali tidak membuat orang kehilangan kesadaran, apalagi  bersedia melakukan hal-hal yang diluar keinginannya.


HALAMAN UTAMA

Saturday, November 3, 2012

The Master ( Rahasia Sulap )


Bagi teman-teman yang pengemar sulap tentunya tidak asing dengan tokoh-tokoh pesulap indonesia yang ikut memajukan dunia sulap di Indonesia. Yang paling berperan besar adalah Deddy Corbuzier, ia merupakan tokoh pesulap yang mengembangkan acara the master di RCTI. dan bagi pemula yang ingin hebat seperti mereka tentu bukanlah hal yang gampang bila tidak mau belajar serius dan fokus pada bidang yang dijalani.

tapi jangan kuatir bagi teman yang ingin seperti mereka disini akan saya berikan Rahasia sulap para master magician ternama...siapa tahu kawan bisa ikutan the master sesion 6 nantinya.

untuk bisa menjadi seorang the master profesional saratnya :
  1. Harus Fokus dengan ilmu yang di jalani
  2. ambil satu atau dua aliran sulap ( Megician ) saja Contoh. Fakir, Mentalis atau illusionis
  3. punya karekter kuat  seperti Limbad, Joe Sandi, Deddy Cobouser, Rommy Rafael... ( usaha tidak meniru mereka tapi punya karakter sendiri ( harus Original dari diri sendiri )
  4. Punya Trik Baru dalam ilmu sulap yang belum pernah di publikasikan ( Min. 3 Permainan ciptaan sendiri )
  5. Harus banyak latihan agar kelihatan sempurna 
  6. Harus punya rasa percaya diri yang tinggi
  7. Harus pandai dalam berkomunikasi ( Banyaklah Baca Buku )
  8. Kunci Fokus-fokus dan Take action

Mulai Belajar sulap lewat Video :
Kumpluan Trik Sulap
Sulap yang mudah
Sulap Profesional

Situs :
http://www.belajartriksulap.com

===============================================================
===================================================
   Belajar Online sulap disini tingkat master
===================================================